Name
: Bandi
Location
: Purwoketo - Indonesia
Gender
: Male
E-Mail
: Bandi@big.net.id
Y!M
: bandi_bji  
Phone
: +6285218144333

Tuesday, October 04, 2005

Photobucket

This is a test post from Photobucket.com

Tuesday, May 17, 2005

PAS BAND - Getir (feat Reza)

Tlah kucoba
menghindari semua
Getiran mimpi yang menghampiri
Lebih dalam Dari laut yang terdalam
Harumnya luka tak menandingi
mungkinkah semua berakhir
Tak lagi bersama diriku
Kumulai langkahi semua tanpa lelah
Kuakui resah ini
Lebih cepat dari kilat dan cahaya
Menikam mimpi menghapus rasa
berharap Semua tak menjadi nyata
Menghilang pergi tak kembali
Kumulai langkahi semua dengan pasti
kuakui semua kan berakhir

Thursday, May 12, 2005

Kesedihan Juga Menawan

Kebahagiaan yang dicari, kesedihan yang didapat", demikianlah keluhan demikian banyak manusia. Entah itu di gunung atau di pantai, di desa atau di kota, di rumah mewah atau rumah sederhana, berpendidikan tinggi atau berpendidikan rendah, sebagian diisi oleh manusia dengan keluhan seperti ini. Lebih-lebih di rumah Indonesia yang menyimpan demikian banyak pekerjaan rumah dari kepemimpinan sampai dengan pengangguran. Sehingga dalam kesederhanaan pemahaman dapat disimpulkan, dalam banyak komunitas manusia, kesedihan serupa dengan musuh, penyakit, hantu bahkan setan yang menakutkan. Tidak ada pilihan lain selain mengusirnya jauh-jauh.
Padahal, siapa saja yang pernah menyelam ke dalam lapisan-lapisan dalam kehidupan - entah melalui pengetahuan, pengalaman apa lagi meditasi - pasti pernah melihat kalau kesedihan bukan lawan (apalagi musuh) kebahagiaan. Kesedihan, di kedalaman renungan seperti ini, juga berfungsi tidak berbeda dengan kebahagiaan. Bukankah kesedihan ada untuk merasakan kedalaman kebahagiaan? Tidakkah ada yang melihat, kalau kebahagiaan kehilangan kedalamannya ketika kesedihan ditolak? Adakah yang pernah merasakan getaran-getaran rasa yang mendalam justru ketika kesedihan meluncur demikian dalamnya?
Kalau sejarah digunakan sebagai sumur-sumur pemahaman, ia menyimpan banyak sekali manusia mengagumkan justru karena pernah menyelam dalam di kedalaman kesedihan. Mahatma Gandhi yang legendaris itu, yang mengusir penjajah secara elegan melalui gerakan-gerakan antikekerasan, melalui masa-masa kesedihan yang amat panjang. Dari masa mudanya yang keras di Afrika Selatan sampai masa tuanya yang tertembak. Dalai Lama yang menyentuh itu, sebagian lebih hidupnya di pengasingan. Kendati hari-harinya berisi kesedihan, kesedihan dan kesedihan, ia tampak semakin kuat melalui senyumannya yang amat khas. Nelson Mandela lain lagi. Dalam kurun puluhan tahun tokoh Afrika Selatan ini dipenjara secara amat mengenaskan. Namun pengalaman yang demikian mengenaskan ini juga yang membuat seorang Nelson Mandela demikian kuatnya. Dan kemudian demikian dikagumi.
Di Indonesia kita mengenal Mohammad Hatta. Sebagian lebih hidupnya berisi terlalu banyak kesedihan. Hidup miskin dan teramat sederhana. Mundur dari singgasana kekuasaan. Kembali ke kehidupan orang biasa dengan menjadi dosen perguruan tinggi setelah lama duduk di singgasana kekuasaan. Salah seorang puterinya bahkan pernah bertutur, kalau gaji pensiunannya tidak cukup digunakan bahkan untuk membayar listrik dan tagihan air minum saja. Namun, bukankah deretan kesedihan ini juga yang membuat Hatta demikian bercahaya hidupnya?
Dalam tataran bangsa, Jepang mulai bangkit kekuatannya beberapa tahun setelah berenang di tengah samudera air mata berupa dua kotanya dijatuhi bom atom. Amerika menjadi demikian maju karena pada awalnya dibentuk oleh manusia-manusia perantauan yang ditempat asalnya kebanyakan mengalami kesedihan. Negara-negara yang kerap dilanda kesedihan akibat bencana alam seperti Taiwan, seperti menyimpan tenaga hidup yang tidak habis-habisnya.
Sehingga dalam totalitas sejarah seperti ini, layak direnungkan kembali menghadirkan wajah kesedihan yang serba hitam, gelap dan buruk. Lebih dari itu, keserakahan untuk hanya menerima kebahagiaan dan membuang kesedihan, tidak saja membuat kebahagiaan berwajah hambar, juga membuat peradaban manusia bergerak dari satu wilayah dangkal ke wilayah dangkal yang lain.
Disinari cahaya terang seperti inilah, maka penyelam-penyelam dalam di samudera kehidupan tidak sedikit yang menyarankan manusia menyelami serangkaian kedalaman kesedihan. Penyair menyentuh yang bernama Kahlil Gibran, yang pernah menghasilkan karya master piece berupa Sang Nabi dengan demikian apiknya menulis: "Tatkala kita bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur!" Psikiater kondang James Scott pernah menyimpulkan kalau jiwa manusia justru jadi kuat setelah melalui serangkaian kesedihan. Penulis jernih Jan Goldstein malah punya pengalaman tangan pertama, kalau duka cita yang mendalam menghasilkan banyak sekali kesucian. Setidaknya itu yang ia ceritakan dalam karya menyentuhnya yang berjudul Sacred Wounds.
Maulana Jalaluddin Rumi lebih mengagumkan lagi. Tidak saja pesan-pesannya yang menyentuh, tetapi pilihan bahasanya juga memperterang kejernihan. Dalam salah satu karyanya, Rumi pernah mengandaikan manusia serupa dengan sayur-sayuran. Di alam bebas, sayur-sayuran masih amat mentah. Salah-salah bisa jadi sampah. Namun, melalui hawa-hawa panas dapurlah, sayur-sayuran dibuat menjadi matang, kemudian melangkah meyakinkan menjadi satu dengan kehidupan manusia. Bukankah manusia juga serupa? Awalnya hanya bahan mentah, namun dapur kesedihanlah yang membuatnya menjadi lebih berguna dan bermakna
Di salah satu pojokan karyanya, Rumi seperti tidak memberikan pilihan lain terkecuali mengalami sendiri kesedihan. Terutama bagi manusia yang mau bertumbuh di ladang-ladang rohani. Coba perhatikan salah satu saran Rumi terhadap orang-orang yang ingin menjadi lelaki sejati: "Hanya melalui kesedihan, melalui penderitaan yang disertai dengan kesabaran, manusia bisa bertumbuh menjadi laki-laki sejati."
Dalam hamparan kejernihan seperti ini, Indonesia memang masih menyimpan banyak kesedihan, umat manusia pasti masih akan menemui kesedihan, cuman bukankah kesedihan juga yang membawa manusia ke serangkaian kekuatan sekaligus kebahagiaan yang mendalam?

Kesedihan Bertemankan Kedalaman

Sudah berjalan demikian lama dalam peradaban manusia, di mana kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan. Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan. Stres, sedih, penyakit dan bahkan depresi itulah rekan-rekan yang diyakini dibawa kesedihan setiap kali ia berkunjung. Tidak ada teman lain. Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti. Tentu saja akan menimbulkan perdebatan yang panjang, kalau tiba-tiba secara antagonistis ada yang berucap, "Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan."
"Kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung."

Tuesday, May 03, 2005

Sendiri

Di sini aku sendiri...tak terasa umur ku sudah bertambah...1 tahun dari tahun kemarin..ulang tahun?? mungkin...ulang tahun yg tak ada bedanya dengan tahun tahun kemarin masih sepi..tak ada yg menggembirakan...bahkan sendiri dan sendiri tak ada yg di tungu dan juga gak ada yang di harapkan...usiaku semakin laama semakin bertambah..."HAPPY B DAY TO ME..SEMOGA DI HARI ULANG TAHUN INI AKU BISA BERTAMBAH SEGALA²NYA AMIEN.......dan SEMOGA DALAM DOA INI di panjang umur , mudah rejeki..dan segala sesuatunya di mudahkan olehNYA...buat keluargaku di Purwokerto yang aku sayangi dan buat diriku sendiri.."

Tuesday, April 26, 2005

Ceritaku

Biar Engkau saja yang menyimpan cerita ini
Meskipun orang mestinya berkata jika luka
Dan air mata mesti punya dua makna

TUHAN
Ternyata
bukan hanya seorang ibu yang harus membayar mahal
menukar tawa dan canda dengan darah
tapi seorang anak pun mesti melunasi darah
yang telah menjadi debu
dengan cinta yang diungkapkan dengan hati perih

TUHAN,
Semakin lama aku semakin menyadari
Waktu demi waktu adalah rencanaMU

Friday, April 22, 2005

CINTA MEMBUAT KITA BERSAYAP

Entah dari mana datangnya kekuatan, setelah belajar jauh ke negeri orang bertahun-tahun, membaca ribuan buku, majalah, koran, mengumpulkan pengetahuan lewat internet, dicerahkan oleh pergaulan yang demikian luas, diperkaya oleh film yang sempat saya tonton, namun bolak-balik saya didamparkan pada puncak ide yang bernama cinta. Mirip dengan guru Aikido yang bernama Morihei Ueshiba, yang menyebut hanya ada satu puncak yaitu
cinta, perjalanan ide saya juga demikian. Dari bacaan, pergaulan, maupun tontotan, semuanya berujung pada lorong yang bernama cinta.

Demikian juga ketika saya bersama anak-anak menonton film The Theory of Conspiracy di HBO suatu malam pertangahan Maret 2000. Film inspiratif yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts ini, memang dilatarbelakangi oleh dunia intelejen yang penuh teka-teki, menantang dan kadang kejam. Mel Gibson dan Julia Roberts memang bermain mengagumkan. Namun, yang lebih mengagumkan adalah cerita film ini. Untuk tujuan kekuasaan yang penuh kekejaman, kerakusan dan keserakahan, Mel Gibson memorinya diacak-acak dan dihancurkan. Kemudian, diformat ulang agar ia menjadi seorang pembunuh yang berdarah
dingin. Yang diharapkan bisa membunuh seorang hakim yang membongkar kasus lama.

Akan tetapi, begitu Mel Gibson siap membunuh sang hakim, ia melihat cinta seorang hakim terhadap puterinya (Julia Roberts) yang menawan.Entah cinta sang hakim pada puterinya, atau cintaseorang pria kepada seorang wanita, yang jelas seluruh energi cinta ini menghentikan energi membunuh Mel Gibson yang penuh
dengan format penguasa.

Merasa takut dan tidak puas dengan hasil format terhadap Mel Gibson, ia pun dikejar dan disiksa. Bahkan sampai mengerahkan seluruh komponen aparat keamanan. Sekali lagi, ia selamat berkat sayap yang bernama cinta. Di akhir cerita, secara amat romantis Mel Gibson bertutur apik : love gives us wing.

Kalimat apik terakhir ini mengingatkan saya pada sejumlah pengalaman berat. Dalam presentasi di depan petinggi-petinggi Citibank Indonesia dari country manager sampai dengan semua vice president saya bertemu dengan banyak sekali orang pintar dengan jam terbang yang mengagumkan. Demikian juga ketika diajak keliling Indonesia oleh Tupper Ware. Saya bertemu dengan
banyak manusia yang amat beragam. Hal yang sama juga terjadi, ketika melakoni diri menjadi konsultan yang harus berhadapan dengan pengusaha-pengusaha sukses yang kaya raya. Ada yang sombong, merendahkan, menghina sampai dengan kagum penuh pujian.

Akan tetapi, dengan modal sayap yang bernama cinta, semua itu lewat tanpa halangan yang menakutkan. Seorang peserta lokakarya yang amat sarkastis di awal, di akhir malah memeluk saya sambil memberikan hadiah sepasang sepatu mahal. Kerap saya ragu dan bingung, tanpa usaha yang terlalu keras,
bagaimana orang yang demikian bermusuhan awalnya menjadi demikian bersahabat. Dalam politik perkantoran juga sama. Kepala saya pernah diinjak dan dikencingin orang lain. Bahkan ada yang melakukannya di depan umum. Entah dari mana datangnya kekuatan, orang-orang seperti ini belakangan tidak sedikit yang menaruh hormat yang tinggi.

Dan setelah mendengar pesan Mel Gibson bahwa love gives us wing, saya baru saja sadar. Bahwa cinta bisa membuat kita bersayap. Untuk kemudian, terbang tinggi-tinggi dalam kehidupan. Tidak hanya tinggi dalam prestasi materi, tetapi juga tinggi dalam prestasi spiritual. Lebih dari itu, sebagaimana burung yang
bersayap, tubuh dan jiwa ini juga menikmati kebebasan yang demikian mengagumkan. Imajinasi, inovasi, inspirasi datang demikian mudahnya dalam kehidupan yang bersayapkan cinta.

Coba perhatikan lirik lagu Boyzone yang berjudul Every Day I Love You, It's a touch when I feel bad, It's a smile when I get mad. Cinta memang bisa demikian memabukkan kalau tidak dibingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan, ia berfungsi persis seperti sayap besar dan tangguh. Dan siap membawa kita kemana saja kita pergi dalam kehidupan.

Bercermin dari filmnya Mel Gibson, pengalaman pribadi saya, maupun lagunya Boyzone, akan banyak gunanya kalau kita membanjiri diri kita dengan cinta. Dan ini sebenarnya tidak sulit. Energi cinta tersedia demikian melimpah di mana-mana. Istri, suami, anak, orang tua, tetangga, alam semesta, Tuhan adalah
sumber dan sekaligus tempat penyaluran cinta. Kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja baik dengan biaya mahal maupun murah.

Saya menyisakan sebagian kecil makanan di pinggir piring setiap kali makan, meletakkan segenggam nasi di pinggir taman rumah agar dimakan oleh burung-burung gereja yang datang setiap pagi, meletakkan daun talas di kolam ikan agar ikan makan dengan lahap, membagi sebagian kecil rejeki ke orang-orang bawah yang memerlukan, memberi semampu mungkin ke anak, isteri dan orang
tua. Anda saya yakin punya cara yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan saya. Mencintai juga lebih hebat dibandingkan dengan saya. Namun, jangan pernah lupa, cinta membuat kita bersayap. Dan kemudian membuat tubuh dan jiwa ini terbang demikian enteng dan ringan. Seperti Mel Gibson yang mengalahkan format teknologi yang demikian mengagumkan namun kejam.


Thursday, April 21, 2005

Selamat hari kartini buat semua perempuan di Indonesia

Ketika kodrat dipertanyakan ...
ketika nafas dipenjarakan..
sebuah jiwa menggeser fajar ketepian hati
"habislah gelap terbitlah terang"

thanks Kartini.....
tuk buat kami berhak memiliki bumi.

   
 
SHOUTBOX
 
 

 

Name

Email/URL

Message